Pengertian, Pengobatan, Gejala serta Penanganan Terbaik Serangan Jantung

Penanganan awal serangan jantung yang terpenting adalah terapi reperfusi, yaitu membuka kembali sumbatan koroner, sehingga aliran koroner mengalir kembali. Dua metode reperfusi yang dikenal saat ini adalah Primary PCI (Percutaneous Coronary Intervention) dan Fibrinolitik. Untuk menyederhanakan pemahaman, saya memakai istilah ALAT untuk primary PCI, dan OBAT untuk fibrinolitik.

Dalam tulisan ini saya akan membandingkan kedua metode reperfusi tersebut. Mana yang merupakan metode penanganan terbaik serangan jantung.

Pengobatan penyakit jantung – metode reperfusi terbaik

Saat ini, metode reperfusi dengan menggunakan alat merupakan metode yang paling direkomendasikan. Ada beberapa alasan. Yang pertama. Metode ini lebih unggul, karena alat, yaitu kateter masuk sampai ke jantung, letak sumbatan langsung dilihat menggunakan X-ray, dan gumpalan darah (= trombus) langsung disedot. Setelah aspirasi atau penyedotan, langsung dapat dilakukan penilaian ulang apakah aliran koroner sudah kembali atau belum. Jadi, baik dokter maupun pasien bisa melihat langsung apakah sumbatan koroner sudah terbuka atau belum

Pada reperfusi dengan obat, obat penghancur gumpalan darah diberikan melalui infus di vena. Obat yang paling sering dipakai di Indonesia adalah streptokinase. Obat harus melalui sistem pembuluh darah balik tubuh, sebelum akhirnya mencapai pembuluh koroner. Obat ini merupakan obat yang ‘keras’, dengan efek samping terpenting adalah perdarahan. Dengan metode ini dokter tidak dapat melihat secara langsung apakah aliran koroner telah terbuka kembali. Keberhasilan obat membuka kembali koroner dinilai secara tidak langsung melalui keluhan pasien, rekaman EKG (elektrokardiografi), dan pemeriksaan darah (kadar enzim jantung)

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa dengan alat, angka keberhasilan membuka kembali koroner mencapai > 90%. Sementara dengan obat, keberhasilan hanya 50 – 60%.

Keunggulan menggunakan alat juga lebih nyata pada pasien serangan jantung yang mengalami syok. Serangan jantung dengan syok, yang ditandai dengan tekanan darah yang rendah, merupakan kondisi yang sangat berat, dengan tingkat kematian yang tinggi, mencapai sekitar 50%.

Resiko perdarahan, khususnya perdarahan otak, juga lebih rendah menggunakan alat dibanding obat.

Persyaratan reperfusi

Metode apapun yang dipilih, tindakan harus dilakukan secepat mungkin. Manfaat reperfusi paling optimal bila dilakukan dalam 3 jam setelah serangan jantung, tetapi masih dapat dilakukan sampai 12 jam setelah serangan.* Setelah lewat 12 jam, tidak direkomendasikan untuk melakukan reperfusi lagi.

Bila memilih metode reperfusi dengan alat, tindakan harus sudah dilakukan dalam waktu 90 menit . Ini dikenal sebagai door to device time, yaitu waktu dari masuk pintu UGD sampai alat berhasil membuka kembali koroner. Untuk obat, door to needle time, waktu dari masuk pintu UGD sampai diberikan obat fibrinolitik adalah 30 menit.

Penanganan terbaik serangan jantung – kendala saat ini

Kendala di Indonesia saat ini adalah masih sangat sedikit rumah sakit yang memiliki sarana dan kemampuan untuk melakukan tindakan reperfusi dengan metode alat. Biaya tindakan yang mahal juga masih menjadi kendala.

Kendala berikutnya adalah pemahaman masyarakat yang keliru, misalnya: ‘Coba dulu dengan obat. Kalau gagal baru dengan tindakan.’ ‘Takut kalau harus pakai alat atau tindakan (karena konotasinya sama dengan operasi). Pakai alternatif saja dulu (= obat).’

Akibatnya, di Indonesia saat ini jauh lebih banyak pasien serangan jantung yang ditangani dengan menggunakan obat. Mudah-mudahan dengan makin majunya bangsa Indonesia, di masa depan lebih banyak pasien yang mendapatkan penanganan terbaik serangan jantung yaitu reperfusi dengan alat yaitu primary PCI.

*Bila reperfusi dilakukan dalam 3 jam setelah serangan jantung, baik dengan alat maupun obat menunjukkan efektivitas yang sama, kecuali komplikasi stroke perdarahan lebih tinggi pada metode dengan obat.

Leave A Comment...

*